Tuesday, September 2, 2008

Tafsir : Prof. Dr. Hamka



Surat AN-NAS(MANUSIA)

Surat 114: 6 ayat

Diturunkan di MAKKAH
سورة: الناس
----------------------------------------------------------------------------------------


قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

1- Katakanlah: "Aku berlindung dengan Pemelihara manusia.
Say: I seek refuge with the Lord and Cherisher of Mankind,


مَلِكِ النَّاسِ
2- Penguasa manusia,
The King (or Ruler) of Mankind,

إِلَهِ النَّاسِ
3- Tuhan bagi manusia.
The Allah (for judge) of Mankind,-

مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
4- Dari kejahatan bisik-bisikan dari si pengintai-peluang.
From the mischief of the Whisperer (of Evil), who withdraws (after his whisper),-

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
5- Yang membisik-bisikkan di dalam dada manusia
(The same) who whispers into the hearts of Mankind,-

مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ
6- Daripada jin dan manusia
Among Jinns and among men.

--------------------------------------------------------------------------------------

Katakanlah." (pangkal ayat 1) Hai utusanKu, dan ajarkan jugalah kepada mereka yang percaya; "Aku berlindung dengan Pemelihara manusia." (ujung ayat 1). "Penguasa manusia." (ayat 2). "Tuhan bagi manusia." (ayat 3).

Di dalam Surat yang terakhir dalam susunan al-Quran yang 114 Surat ini, disebutkanlah ajaran bagaimana caranya manusia berlindung kepada Allah dari sesamanya manusia.

Saya sendiri dan saudara yang membaca karangan ini adalah manusia. Dan kita pun hidup di tengah-tengah manusia. Selain dari hubungan kita dengan Allah, kita pun selalu berhubungan dengan sesama manusia. Tidak ada di antara kita yang dapat membebaskan diri daripada ikatan dengan sesama manusia.

Di dalam Surat 3, ali Imran ayat 112 dengan tegas Allah memberikan peringatan bahwa kehinaan akan dipikulkan Tuhan kepada kita kecuali dengan berpegang kepada dua tali; tali dari Allah dan tali dari manusia.

Agama sendiri pun, selain dari mengatur tali perhubungan dengan Allah, juga mengatur tali perhubungan dengan sesama manusia. Dan kita pun maklum dan mengalami sendiri, bahwa pergaulan dengan sesama manusia itu bukanlah suatu yang mudah. Yang bagus menurut pendapat kita belum tentu bagus menurut pen­dapat orang lain. Langkah cita-cita yang baik belum tentu diterima orang lain. Kalau dipandangnya akan merugikannya, niscaya akan dihambatnya.

Di tengah-tengah gelombang kehidupan manusia yang banyak itu, dengan berbagai macam ragam keinginan, kelakuan, cita-cita, lingkungan dan pen­didikan terseliplah kita, saya dan saudara, sebagai peribadi. Menyisih dari sesama manusia tidak bisa, dan bergaul terus dengan mereka bukan tak ada pula akibatnya, akibat yang baik ataupun yang buruk.

Manusia bisa menguntungkan kita dan bisa membahayakan kita. Maka diajarkanlah pada Surat yang terakhir ini bagaimana cara kita meng­hadapi dan hidup di tengah-tengah manusia. Kita dengan ajaran melalui Nabi s.a.w. disuruh memperlindungkan diri kepada Allah! Karena Allah itulah Rabbun-Naasi, Pemelihara Manusia. Malikun-Naasi, Penguasa Manusia dan Ilahun-Naasi, Tuhan bagi manusia.

Allah adalah Rabbun, Malikun, Ilahun.

Allah adalah Pemelihara, Penguasa dan Tuhan.

Allah adalah KHALIQ, artinya Pencipta. Di samping menciptakan seluruh alam, Allah pun menciptakan manusia, dan manusia itu mempunyai pergaulan hidup. Manusia diberi akal budi, sehingga manusia hidup di permukaan bumi ini jauh berbeda dengan kehidupan makhluk Allah yang lain. Sebab itu maka manusia dapat merencanakan apa yang akan dikerjakannya di dalam me­nempuh jalan hidupnya, sampai dunia ini akan ditinggalkannya kelak.

Tidaklah Allah membiarkan saja manusia hidup menurut semau-maunya.

أيَحْسَبُ الإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدَى - القيامة 36
"Apakah menyangka manusia itu bahwa is akan dibiarkan saja hidup ter­lunta-lunta?" (al-Qiyamah: 36)

Tuhan adalah Rabbun-Naasi; Pemelihara manusia. Tidak dibiarkan terlantar, dipeliharaNya lahirnya dan batinnya, luarnya dan dalamnya, jasmaninya dan rohaninya, makanannya dan minumannya. Yang dipeliharanya itu termasuk aku, termasuk engkau dan termasuk segala makhluk yang bernama Naas atau Insan dalam dunia ini. Sehingga turun nafas kita, perjalanan dan goyangan jantung siang dan malam yang tidak pernah berhenti, alat-alat pencerna tubuh, telinga alat pendengar, mata alat melihat, hidung alat pembau, semuanya dipelihara terus oleh Maha Pemelihara itu, oleh Rabbun itu.

Dan Dia adalah pula Malikun-Nasi, Penguasa dari seluruh manusia.

Kalau kalimat malik itu dibaca tidak dipanjangkan bacaan pada mim (tidak dengan madd, panjang dua alif menurut ilmu tajwid), berartilah dia Penguasa atau Raja. Pemerintah tertinggi atau Sultan. Tetapi kalau malik dibaca dengan dipanjangkan dua alif pada mim, berarti dia Yang Empunya.

Dipanjangkan membaca mim ataupun dibaca tidak dipanjangkan namun pada kedua bacaan itu memang terkandung kedua pengertian Allah itu memang Raja, atau Penguasa yang mutlak atas diri manusia Maha Kuasa Allah itu mentakdirkan dan mentadbirkan, sehingga mau tidak mau, kita manusia mesti menurut peraturan yang telah ditentukanNya, yang disebut Sunnatullah. Kalau kita hendak dilahirkannya ke duunia, hanya berasal dari setetes mani, kita pun lahir.
Kalau kita hendak dimatikannya, bagaimanapun bertahan, kita pasti mati. Kita ini Dialah yang empunya. Bahkan nyawa kita; kalimat mudhaf dan mudhaf ilaihi di antara nyawa dan kita, arti sepintas lalu ialah bahwa nyawa kita sendiri kitalah yang empunya. Namun pada hakikatnya, yang empunya nyawa kita bukanlah kita, melainkan Dia.
Jelas dikatakanNya dalam wahyuNya; Ruhi-hi, artinya; Nyawa-Nya, bukan Ruhi-iy; Roh atau naywaku! (Dengan K, huruf kecil).

Kalau sudah jelas bahwa nyawa kita sendiri bukan kita manusia yang empunya, apalah lagi yang kita kuasai dan kita punyai di dalam diri kita ini?

Tidak ada!

Maka tidaklah ada artinya mengakui Allah sebagai Rabbun, atau Pemelihara, kalau kita tidak mengakui yang selanjutnya, yaitu bahwa Allah itu sebagai Malikun adalah sebagai Penguasa atas kita manusia, Raja atas kita manusia, yang Memiliki atas diri seluruh manusia, termasuk aku dan engkau!

Oleh sebab hanya Dia Pemelihara dan hanya Dia Penguasa, maka hanya Dia pulalah yang Ilah, hanya Dia sajalah yang Tuhan, yang wajar buat di­sembah dan dipuja. KepadaNyalah kembali segala persembahan dan segala pemujaan.

Kita perlindungkan diri kepada Allah, Pemelihara, Penguasa dan Tuhan dari Sarwa Sekalian Alam, dan khusus dari seluruh manusia dari segala mara­bahaya.

Pada Surat yang telah lalu, Surat 113, al-Falaq kita memperlindungkan diri kepada Allah sebagai Pemelihara dari pergantian malam kepada siang, dari kejahatan segala apa pun yang Dia jadikan.

Kita melindungkan diri kepadaNya, dalam keadaanNya sebagai Pemelihara dari kegelapan malam, dan kita pun melindungkan diri dari mantra dan tuju tukang sihir, ataupun dari bujuk rayu perempuan (sebagai ditafsirkan oleh Abu Muslim) dan dari hasad dengkinya orang yang dengki.

Namun pada Surat penutup ini, Surat 114 kita berlindung kepada Allah dari satu macam bahaya yang timbul dari sesama manusia. Apa­kah bahaya itu?

Yaitu; "Dari kejahatan bisik-bisikan dari si pengintai-peluang." (ayat 4). lalah orang yang selalu mengintai kalau ada peluang. Yang selalu menunggu moga-moga kita terlengah. Maka saat kita terlengah itulah peluang yang baik baginya untuk membisik-bisikkan sesuatu!

"Yang membisik-bisikkan di dalam dada manusia." (ayat 5). Dia berbisik-­bisik, bukan berterang-terang. Dia masuk ke dalam dada manusia secara halus sekali. Dia menumpang dalam aliran darah, dan darah berpusat ke jantung, dan jantung terletak dalam dada.

Maka dengan tidak disadari bisikan yang dimasukkan melalui jantung yang dibalik benteng dada itu, dengan tidak di­sadari terpengaruhlah oleh bisik itu. Sedianya kita akan maju; namun karena mendengar bisikan dalam dada itu, kita pun mundur.

Tadinya hati kita telah bulat hendak berjihad fi Sabilillah; namun karena bisikan yang menembus hati itu, kita tidak jadi berjihad. Kita menjadi ragu akan maju ke muka. Bisikan dalam hati yang menghasilkan ragu-ragu itu sangatlah menurunkan mutu kita sebagai manusia. Dan perasaan yang dibisikkan oleh sesuatu di dalam dada itu telah diberi nama dalam ayat-ayat ini, yaitu waswas! Dan dia pun telah menjadi bahaya Indonesia kita; waswas.

Siapa yang memasukkan waswas ini ke dalam dada kita? Ditegaskan oleh ayat terakhir. Dia terdiri; "Daripada jin dan manusia." (ayat 6).

Si pengintai-peluang (ayat 4) disebut si KHANNAS!

Ada yang halus atau secara halus; itulah yang dari jin.Ada yang kasar secara kasar, itulah yang dari manusia.

Keduanya membujuk, merayu, setelah memperhatikan bahwa kita lengah.

Karena kelengahan kita, timbullah penyakit waswas dalam dada, hilang keberanian menegakkan yang benar dan menangkis yang salah, sehingga rugi­lah hidup di tengah-tengah pergaulan manusia yang menempuh jalan berliku-­liku ini.
Di ayat penghabisan ini telah dijelaskan bahwasanya si pengintai-peluang itu terdiri dari dua jenis, yaitu jin dan manusia. Al-Hasan menegaskan: "Kedua­nya sama-sama syaitan. Syaitan yang berupa jin memasukkan waswas ke dalam dada manusia. Adapun syaitan yang berupa manusia memasukkan waswas secara kasar."

Qatadah menjelaskan; "Di keduanya ada syaitannya. Di kalangan jin ada syaitan-syaitan, di kalangan manusia pun ada syaitan-syaitan."

Tafsir dari Ustazul Imam Syaikh Muhammad Abduh lebih menjelaskan lagi. Kata beliau: "Yang membisik-bisikkan (was-was) ke dalam hati manusia itu ada­lah dua macam. Pertama ialah yang disebut jin itu, yaitu makhluk yang tak nampak oleh mata dan tidak diketahui mana orangnya tetapi terasa bagaimana dia memasukkan pengaruhnya ke dalam hati, membisikkan, merayukan. Dan semacam lagi ialah perayu yang kasar, yaitu manusia-manusia yang mengajak dan menganjurkan kepada jalan yang salah."

Imam Ghazali di dalam kitabnya "Ihya' Ulumiddin" yang terkenal itu mem­berikan bimbingan terperinci, bagaimana usaha supaya di dalam kita melakukan sembahyang jangan sampai si Khannas itu dapat memasukkan pengaruhnya ke dalam dada kita.
Di antara lain beliau menulis; "Apabila engkau membaca A`udzu billahi minasy-syaithanir-rajim, hendaklah engkau ingat bahwa musuh besarmu itu (syaitan), selalu mengintipmu, dan jika engkau lengah niscaya di­palingkannya hatimu daripada ingat akan Allah. Asal mulanya ialah karena hasad dengkinya kepadamu, melihat engkau munajat menyeru Allah dan engkau bersujud kepadaNya. Padahal dia dikutuk Tuhan karena sekali bersalah menantang Tuhan, tidak mau sujud kepada Adam.

Dan sesungguhnya engkau memperlindungkan diri kepada Allah daripada perdayaan syaitan itu ialah dengan meninggalkan apa yang disukai syaitan, bukan semata-mata hanya berlindung diucapkan mulut.
Karena orang yang telah diintai oleh binatang buas, sedang dia tahu, atau hendak diserang dan dibunuh oleh musuhnya, tidaklah akan menolong kalau hanya diucapkannya "Aku berlindung kepada Allah, bentengku yang kuat," padahal dia masih tegak juga di tempat Ucapkanlah ucapan itu, tetapi segeralah tinggalkan tempat yang berbahaya itu. Karena dengan ucapan saja tidaklah akan berfaedah.

Demikian jugalah adanya orang yang masih saja menuruti kehendak syahwatnya, padahal menurut syahwat itulah yang sangat disukai oleh syaitan dan dimurkai oleh Tuhan; tidaklah akan menolong kalau hanya ucapan, kalau hanya bacaan! Tetapi hendaklah di samping berucap dan membaca, ambil cepat tindakan meninggalkan lapangaan syaitan itu dan masuk ke dalam benteng yang tidak sedikit pun dapat dimasuki oleh musuh. Benteng yang teguh kokoh itu ialah yang pemah dijelaskan oleh Tuhan Azza wa Jalla dengan perantaraan lidah NabiNya s.a.w. Bahwa Tuhan perBoldnah berfirman kepada beliau (Hadis Qudsi):

لآ إله إلا اللهُ حِصْنِيْ ، فَمَنْ دَخَلَ حِصْنِيْ أَمِنَ مِنْ عَذَابِيْ
"La Ilaha Illallah"; "Tidak ada Tuhan melainkan Allah adalah bentengKu; barangsiapa yang masuk melindungkan dirt ke dalam bentengKu, selamatlah is daripada azabKu."

Orang yang terpelihara dalam benteng itu ialah orang yang benar-benar tidak ada ma'budnya, tidak ada yang disembahnya selain Allah. Adapun orang yang mengambil hawa nafsunya menjadi Tuhannya, maka dia itu adalah di tempat permedanan syaitan, bukan berlindung di benteng Tuhan." – Sekian Ghazali.


* * * *

Maka banyaklah keterangan dari Rasulullah s.a.w sendiri tentang bagai­mana pentingnya kedua Surat ini, yang selalu disebut "Mu`awwidzataini" (dua Surat perlindungan) untuk dijadikan bacaan pengokoh iman, penguat jiwa, penangkis bahaya.

Maka tersebutlah di dalam sebuah Hadis yang shahih, dirawikan oleh Bukhari, yang beliau terima dengan sanadnya daripada Ibu orang yang ber­iman Siti Aisyah (moga-moga Allah ridha kepadanya), bahwasanya junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w. apabila hendak masuk ke dalam tempat tidurnya setiap malam, dikumpulnya kedua telapak tangannya, kemudian itu dibacanya; mula-mula "Qul Huwallaahu Ahad", sesudah itu "Qul A'uudzu Bi Rabbit Falaqi", sesudah itu "Qul A'uudzu Bi Rabbin-naasi", yang ditampungkannya sambil membaca itu dengan kedua telapak tangannya itu. Setelah selesai, maka di­barutkannyalah kedua telapak tangannya itu pada bahagian-bahagian yang dapat dicapai oleh kedua telapak tangannya itu, dengan dimulai dari kepalanya dan mukanya, terus kepadaa sseluruh badannya sampai ke bawah. Diperbuatnya demikian sampai tiga kali."

Selain dari Bukhari, Hadis ini pun dirawikan oleh ash-Habus-Sunan.

Dan seketika penulis tafsir ini masih lagi kecil, cara pelaksanaan Hadis ini telah diajarkan kepadaku oleh ayahku dan guruku. Dan dalam perjalanan-­perjalanan musafir ketika saya menngiiringkan beliau, jaranglah aku tidak melihat beliau melakukan demikian. Demikianlah adanya; Amin.